worldview islam

Posted: Maret 23, 2010 in liberalisme, pluralisme, sekularisme

Asas Epistemologi Islam sebagai Pandangan Hidup *

Oleh: Hamid Fahmy Zarkasyi

Pendahuluan

Epistemologi dan pandangan hidup, seperti yang akan dibuktikan nanti,  mempunyai kaitan yang sangat erat, sebab keduanya berada dan bekerja dalam pikiran manusia. Ia bahkan dapat digambarkan sebagai vicious circle (lingkaran setan), dimana yang satu dapat mempengaruhi yang lain. Kepercayaan terhadap pengetahuan tentang Tuhan, misalnya, membuat pengetahuan non-empiris menjadi mungkin (possible). Sebaliknya menafikan pengetahuan non-empiris berimplikasi pada penolakan terhadap pengetahuan tentang Tuhan dan tentang hal-hal spiritual lainnya. Contoh serupa dapat terjadi pada kepercayaan mengenai sumber pengetahuan tentang moralitas. Percaya bahwa sumber pengetahuan moralitas hanyalah sebatas subyektifitas manusia berarti menolak sumber diluar itu,[1] termasuk wahyu. Namun persoalan bagaimana epistemologi dan pandangan hidup sama-sama bekerja dalam pikiran manusia memang tidak sesederhana itu, namun hubungan antara keduanya dapat didemonstrasikan.

Dalam Islam, epistemologi berkaitan erat dengan struktur metafisika dasar Islam yang telah terformulasikan sejalan dengan wahyu, hadith, akal, pengalaman dan intuisi.[2] Ini berarti bahwa ilmu dalam Islam merupakan produk dari pemahaman (tafaqquh) terhadap wahyu yang konsep-konsepnya berdimensi universal, permanen (thÉbit) dan dinamis (mutaghayyir), pasti (muÍkam) dan samar-samar (mutashÉbih), yang asasi (uÎËl) dan  yang tidak (furË‘).  Oleh sebab itu pemahaman terhadap wahyu tidak dapat dilihat secara dikhotomis: historis-normatif, tekstual-kontekstual, subyektif-obyektif dan lain-lain. Wahyu, pertama-tama harus difahami sebagai realitas bangunan konsep yang membawa pandangan hidup baru. Realitas bangunan konsep ini kemudian harus dijelaskan dan ditafsirkan agar dapat dipergunakan untuk memahami dan menjelaskan realitas alam semesta dan kehidupan ini. Karena bangunan konsep dalam wahyu yang membentuk worldview itu sarat dengan prinsip-prinsip tentang ilmu, maka epistemologi merupakan bagian terpenting didalamnya. Tak diragukan lagi jika tradisi intelektual dalam peradaban Islam dapat hidup dan berkembang secara progressif. Jadi peradaban Islam itu bermula dari kegiatan tafaqquh terhadap wahyu yang kemudian berkembang tradisi intelektual dan akhirnya menjadi peradaban yang kokoh. Disitu pandangan hidup atau worldview dan epistemologi sama-sama bekerja. Yang akan dibuktikan dalam pembahasan ini adalah bahwa epistemologi Islam lahir dan berkembang berasaskan pandangan hidup Islam. Jika itu terbukti maka dapat dipostulasikan bahwa epistemologi Islam hanya dapat dikembangkan dengan merujuk kepada worldview Islam. Selajutnya makalah ini juga akan membuktikan kaitan konseptual antara keduanya dan karena itu perlu dijelaskan terlebih dahulu pengertian dan konsep masing-masing.

Pengertian Umum worldview

Secara awam worldview atau pandangan hidup sering diartikan filsafat hidup atau prinsip hidup. Setiap kepercayaan, bangsa, kebudayaan atau peradaban dan bahkan setiap orang mempunyai worldview masing-masing. Maka dari itu jika worldview diasosiasikan kepada sesuatu kebudayaan maka spektrum maknanya dan juga termanya akan mengikuti kebudayaan tersebut. Esensi perbedaannya terletak pada faktor-faktor dominan dalam pandangan hidup masing-masing yang boleh jadi berasal dari kebudayaan, filsafat, agama, kepercayaan, tata nilai sosial atau lainnya. Faktor-faktor itulah yang menentukan cara pandang dan sikap manusia yang bersangkutan terhadap apa yang terdapat dalam alam semesta, dan juga luas atau sempitnya spektrum maknanya. Ada yang hanya terbatas pada kesini-kinian, ada yang terbatas pada dunia fisik, ada pula yang menjangkau dunia metafisika atau alam diluar kehidupan dunia.

Terma yang umum digunakan untuk memaknai pandangan hidup adalah worldview (Inggeris), weltanschauung atau weltansicht (Jerman), terkadang juga disebut paradigma.[3] Dalam pemikiran Islam terma yang digunakan bermacam-macam seperti yaitu al-taÎawwur al-IslÉmÊ (Sayyid Qutb) al-Mabda’ al-IslÉmÊ (Shaykh Atif al-Zayn), IslÉmÊ NaÐariyat (al-Maududi), dan juga ru’yat al-Islam lil wujËd (Syed Mohammad Naquib al-Attas), terkadang dipakai juga terma naÐariyyat al-IslÉm li al-kawn. Untuk memudahkan artikulasi istilah ini, maka dalam diskursus ini, istilah worldview dipakai sebagai kata pinjaman, namun ketika ia diberi kata sifat Islam maka kata itu telah mengalami perubahan definisinya.[4] Untuk memahami lebih jauh makna worldview akan dipaparkan definisi-definisi worldview dari pakar-pakar berbagai bidang.

Ninian Smart, pakar kajian perbandingan agama, memberi makna worldview dalam konteks perubahan sosial dan moral. Worldview adalah “kepercayaan, perasaan dan apa-apa yang terdapat dalam pikiran orang yang befungsi sebagai motor bagi keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral.”[5] Secara filosofis Thomas F Wall, memaknai worldview sebagai “sistim kepercayaan asas yang integral tentang hakekat diri kita, realitas, dan tentang makna eksistensi”.[6] Dalam bidang yang sama Alparslan Acikgence memaknai worldview sebagai asas bagi setiap perilaku manusia, termasuk aktifitas-aktifitas ilmiyah dan teknologi. Setiap aktifitas manusia akhirnya dapat dilacak pada pandangan hidupnya, artinya aktifitas manusia dapat direduksi kedalam pandangan hidup itu.[7] Ada tiga poin penting dari ketiga definisi diatas, yaitu bahwa worldview adalah motor bagi perubahan sosial, asas bagi pemahaman realitas dan asas bagi aktifitas ilmiah. Dalam konteks sains, hakekat worldview dapat dikaitkan dengan konsep “perubahan paradigma” Thomas S Kuhn[8] oleh Edwin Hung juga dianggap sebagai weltanschauung Revolution. Sebab paradigma menyediakan konsep nilai, standar-standar dan metodologi-metodologi, atau ringkasnya merupakan worldview dan framework konseptual yang diperlukan untuk kajian sains.[9]

Namun dari ketiga definisi diatas setidaknya kita dapat memahami bahwa worldview adalah tolok ukur untuk membedakan antara suatu peradaban dengan yang lain. Bahkan dari dua definisi terakhir menunjukkan bahwa worldview melibatkan aktifitas epistemologis manusia, sebab ia merupakan faktor penting dalam aktifitis penalaran manusia. Lebih jauh tentang hakekat worldview dan sejalan dengan kajian kita saat ini berikut akan dipaparkan definisi worldview menurut para pemikir Muslim.

Pengertian worldview Islam

Dalam tradisi Islam klasik terma khusus untuk pengertian worldview belum ada, meski tidak berarti bahwa para ulama tidak memiliki asas yang sistemik untuk memahami realitas. Para ulama abad 20 menggunakan terma khusus untuk pengertian worldview ini, meskipun berbeda antara satu dengan yang lain. Maulana al-Mawdudi mengistilahkannya dengan Islami nazariat (Islamic Vision), Sayyid Qutb menggunakan istilah al-TaÎawwur al-IslamÊ (Islamic Vision), Mohammad AÏif al-Zayn menyebutnya al-Mabda’ al-IslÉmÊ (Islamic Principle),  Prof. Syed Naquib al-Attas menamakannya Ru’yatul Islam lil wujËd (Islamic Worldview). Meskipun istilah yang dipakai berbeda-beda pada umumnya para ulama tersebut sepakat bahwa Islam mempunyai cara pandangnya sendiri terhadap segala sesuatu.  Penggunaan kata sifat Islam menunjukkan bahwa istilah ini sejatinya umum dan netral. Artinya agama dan peradaban lain juga mempunyai Worldview, Vision atau Mabda’, sehingga al-Mabda’ juga dapat dipakai untuk cara pandang komunis al-Mabda’ al-Shuyu’i, Western worldview, Christian worldview, Hindu worldview dll. Disini kata sifat Islam, Barat, Kristen, Hindu dll.,  digunakan untuk pembeda. Maka dari itu ketika kata sifat Islam diletakkan didepan kata worldview, maka makna etimologis dan terminologis menjadi berubah. Definisi berikut ini, meski hanya sebatas beberapa nama yang sejauh ini dapat dirujuk,  akan menunjukkan perubahan tersebut:

Istilah Islami Nazariyat (Islamic Vision) bagi al-Mauwdudi berarti “pandangan hidup yang dimulai dari konsep keesaan Tuhan (shahadah) yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manusia di dunia. Sebab shahadah adalah pernyataan moral yang mendorong manusia untuk melaksanakannya dalam kehidupannya secara menyeluruh”.[10] Worldview dalam istilah Shaykh Atif al-Zayn adalah al-Mabda’ al-IslÉmÊ yang lebih cenderung merupakan kesatuan iman dan akal dan karena itu ia mengartikan mabda’ sebagai aqidah fikriyyah yaitu kepercayaan yang berdasarkan pada akal.[11] Sebab baginya iman didahului dengan akal. Sayyid Qutb memahami dari perspektif teologis dan juga metafisis mengartikannya dengan al-tasawwur al-Islami, yang berarti sebagai “akumulasi dari keyakinan asasi yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap Muslim, yang memberi gambaran khusus tentang wujud dan apa-apa yang terdapat dibalik itu.”[12] S.M.Naquib al-Attas mengartikan worldview Islam sebagai pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total maka worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud (ru’yat al-Islam lil-wujud).[13] Tidak seperti yang lain disini al-Attas meletakkan Islam sebagai subyek dan realitas atau wujËd dalam pengertian yang luas sebagai obyek. Namun poin yang ditangkap dari definisi keempat tokoh diatas adalah bahwa pandangan hidup Islam adalah pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang menjelaskan tentang hakekat wujud yang berakumulasi dalam akal pikiran dan memancar dalam keseluruhan kegiatan kehidupan umat Islam di dunia.

Pandangan-pandangan diatas telah cukup baik menggambarkan karakter Islam sebagai suatu pandangan hidup yang membedakannya dengan pandangan hidup lain. Namun, kajian lebih lanjut terhadap pemikiran dibalik definisi para ulama tersebut kita akan menunjukkan orientasi yang berbeda. Al-Maududi lebih mengarahkan kepada kekuasaan politik. Shaykh Atif al-Zayn dan Sayyid Qutb lebih cenderung mamahaminya sebagai seperangkat doktrin kepercayaan yang rasional yang implikasnya adalah ideologi, meski Qutb menambahkan aspek metafisis. Naquib al-Attas lebih cenderung kepada makna metafisis dan epistemologis. Untuk lebih jelas tentang hakekat pandangan hidup berikut ini diungkapkan pandangan mereka tentang elemen dan karakter worldview.

Elemen dan karakteristik worldview

Sebagai sebuah matrik yang universal, maka identifikasi worldview suatu peradaban dapat dilakukan melalui elemen-elemen asasnya. Dalam menentukan elemen asas bagi suatu worldview para cendekiawan mempunyai beberapa kesamaan dan perbedaan. Kesamaannya terletak pada elemen asasi yang dimiliki oleh suatu worldviw, sedangkan perbedaannya terletak pada jumlah elemen dan spektrum maknanya.

Thomas Wall menentukan sekurang-kurangnya enam elemen yang perlu ada dan dimiliki oleh pandangan hidup suatu peradaban yaitu konsep Tuhan, Ilmu, realitas, Diri, etika, masyarakat.[14] Ninian Smart juga menetapkan enam elemen worldview yang ia sebut sebagai dimensi agama: doktrin, mitologi, etika, ritus, pengalaman dan kemasyarakatan.[15] Berbeda dari kedua pemikir diatas Naquib Al-Attas tidak memberi batas jumlah elemen asas bagi worldview Islam. Baginya elemen asas worldview Islam adalah konsep tentang hakekat Tuhan, tentang Wahyu (al-Qur’an), tentang penciptaan, tentang hakekat kejiwaan manusia, tentang ilmu, tentang agama, tentang kebebasan, tentang nilai dan kebajikan, tentang kebahagiaan dan lain-lain.[16] Dari ketiga pemikir tersebut diatas kita dapati terdapat kesamaan dalam 5 elemen worldview, yaitu konsep Tuhan, konsep realitas, konsep ilmu, konsep etika atau nilai dan kebajikan, dan konsep tentang diri manusia. Namun mereka berbeda ketika menentukan spektrum makna masing-masing elemen tersebut. Spektrum makna worldview Wall dan Smart menjadi terbatas ketika keduanya tidak menjadikan konsep wahyu, penciptaan, agama dan kebahagiaan sebagai elemen wordview seperti konsep al-Attas. Disini al-Attas bahkan menekankan bahwa pandangan hidup berperan dalam cara menafsirkan apa makna kebenaran (truth) dan realitas (reality) dan juga dalam menentukan apakah sesuatu itu benar dan riel. Semuanya itu tergantung kepada sistim metafisika masing-masing yang terbentuk oleh worldview.[17] Disini sekali lagi kita menangkap bahwa pandangan hidup lebih banyak berkaitan dengan epistemologi daripada dengan ideologi.  Lebih teknis lagi Prof. Alparslan menjelaskan bahwa worldview Islam adalah “visi tentang realitas dan kebenaran, berupa kesatuan pemikiran yang arsitektonik, yang berperan sebagai asas yang tidak nampak (non-observable) bagi semua perilaku manusia, termasuk aktifitas ilmiah dan teknologi”.[18]

Jadi untuk mengidentifikasi worldview suatu peradaban elemen asas adalah penting, namun untuk membandingkan karakteristik suatu peradaban dengan lainnya elemen tambahan dan spektrum maknanya. Makna worldview dalam studi keagamaan modern (modern study of religion), misalnya, terbatas kepada doktrin-doktrin agama dan ideologi, termasuk ideologi sekuler,[19] namun dalam Islam makna worldview menjangkau makna pandangan Islam terhadap hakikat dan kebenaran tentang alam semesta (ru’yat al-Islam li al-wujud).[20] Ia tidak terbatas pandangan akal manusia terhadap dunia fisik atau keterlibatan manusia didalamnya dari segi historis, sosial, politik dan kultural…tapi mencakup aspek al-dunyÉ dan al-Ékhirah, dimana aspek al-dunyÉ harus terkait secara erat dan mendalam dengan aspek al-Ékhirah, sedangkan aspek akherat harus diletakkan sebagai aspek final”.[21] Sebagai implikasi epistemplogis dari perbedaan spektrum makna worldview, al-Attas membuat perbandingan [22] yang jelas yang dapat ditabulasikan seperti berikut ini:

WORLDVIEW ISLAM WORLDVIEW BARAT
1 Asas:

Wahyu, hadith, akal, pengalaman dan intuisi.

Asas:

Rasio, spekulasi filosofis.

2

Pendekatan: Tawhidi

Pendekatan: dichotomic

3 Sifat:

otentisitas dan finalitas

Sifat:

rasionalitas, terbuka dan selalu berubah

4 Makna realitas: berdasarkan kajian metafisis Makna realitas: pandangan sosial, kultural, empiris
5 Obyek kajian:

visible & invisible .

Obyek kajian:

tata nilai masyarakat

Proses munculnya worldview dan ilmu pengetahuan

Sebenarnya cara bagaimana seorang individu berproses memiliki pandangan hidup (worldview) cukup beragam dan dengan keragaman proses tersebut berbeda-beda pula bentuk dan sifat worldview yang dihasilkannya. Proses pembentukan worldview hampir tidak beda dengan proses pencarian pengetahuan. Worldview terbentuk dari adanya akumulasi pengetahuan dalam fikiran seseorang, baik a priori maupun a posteriori,[23] konsep-konsep serta sikap mental yang dikembangkan oleh seseorang sepanjang hidupnya. Bagi Wall akumuluasi pengetahuan yang ia sebut epistemological beliefs itu sangat berpengaruh terhadap pembentukan worldview kita, namun yang sangat menentukan terbentuknya worldview baginya adalah metaphysical belief.[24] Bagi Alparslan worldview lahir dari adanya konsep-konsep yang mengkristal menjadi kerangka fikir (mental framework).[25] Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: ilmu pengetahuan yang diperoleh seseorang itu terdiri dari ide-ide, kepercayaan, aspirasi dan lain-lain yang kesemuanya membentuk suatu totalitas konsep yang saling berkaitan dan terorganisasikan dalam suatu jaringan (network) dalam pikiran kita. Jaringan ini membentuk struktur berfikir yang koheren dan dapat disebut suatu keseluruhan yang saling berhubungan “achitectonic whole”.  Keseluruhan konsep yang saling berhubungan inilah yang membentuk pandangan hidup seseorang.[26] Dalam kasus Islam, seperti yang akan dijelaskan nanti, pengetahuan yang membentuk totalitas konsep itu berasal dari ajaran Islam.

Secara sosiologis prasyarat terbentuknya worldview bagi suatu bangsa atau masyarakat adalah kondisi berfikir (mental environment), meskipun hal ini belum menjamin timbulnya tradisi intelektual dan penyebaran ilmu di masyarakat. Untuk itu bangsa atau masyarakat itu memerlukan apa yang disebut  scientific conceptual scheme (kerangka konsep keilmuan), yaitu konsep-konsep keilmuan yang dikembangkan oleh masyarakat itu secara ilmiyah. Melihat kedua proses pembentukan dan pengembangan worldview yang seperti ini, maka worldview dapat dibagi menjadi natural worldview dan transparent worldview. Yang pertama terbentuk secara alami sedangkan yang kedua terbentuk oleh suatu kesadaran berfikir saja.[27] Dalam natural worldview disseminasi ilmu pengetahuan biasanya terjadi dengan cara-cara ilmiah dalam kerangka konsep keilmuan (scientific conceptual scheme), yaitu suatu mekanisme canggih yang mampu melahirkan pengetahuan ilmiah dan melahirkan pandangan hidup ilmiah (scientific worldview).[28] Berbeda dari natural worldview, transparent worldview lahir tidak melalui kerangka konsep keilmuan yang terbentuk dalam masyarakat, meskipun substansinya tetap bersifat ilmiah.

Transparent worldview lebih sesuai untuk sebutan bagi pandangan hidup Islam. Sebab pandangan hidup Islam tidak bermula dari adanya suatu masyarakat ilmiah yang mempunyai mekanisme yang canggih bagi menghasilkan pengetahuan ilmiah. Pandangan hidup Islam dicanangkan oleh Nabi di Makkah melalui penyampaian wahyu Allah dengan cara-cara yang khas. Setiap kali Nabi menerima wahyu yang berupa ayat-ayat al-Qur’an, beliau menjelaskan dan menyebarkannya kemasyarakat. Cara-cara seperti ini tidak sama dengan cara-cara yang ada pada scientific worldview, dan oleh sebab itu Prof.Alparslan menamakan worldview Islam sebaai  ‘quasi-scientific worldview‘.[29]

Proses pembentukan pandangan hidup melalui penyebaran ilmu pengetahuan diatas akan lebih jelas lagi jika kita lihat dari proses pembentukan elemen-elemen pokok yang merupakan bagian dari struktur pandangan hidup itu serta fungsi didalamnya. Seperti yang dijelaskan diatas bahwa pandangan hidup dibentuk oleh jaringan berfikir (mental network) yang berupa keseluruhan yang saling berhubugan (architectonic whole). Namun, ia tidak merepresentasikan suatu totalitas konsep dalam pikiran kita. Ketika akal seseorang menerima pengetahuan terjadi proses seleksi yang alami, dimana pengetahuan tertentu diterima dan pengetahuan yang lain ditolak. Pengetahuan yang diterima oleh akal kita akan menjadi bagian dari struktur worldview yang kita miliki. Struktur worldview hampir serupa dengan elemen worldview dan disini terdapat sedikitnya lima bagian penting yaitu: 1) struktur tentang kehidupan, 2) tentang dunia, 3) tentang manusia, 4) tentang nilai dan 5) struktur tentang pengetahuan.[30] Proses terbentuknya struktur worldview ini bermula dari struktur tentang kehidupan, yang didalamnya termasuk cara-cara manusia menjalani kegiatan kehidupan sehari-hari, sikap-sikap individual dan sosialnya, dan sebagainya. Struktur tentang dunia adalah konsepsi tentang dunia dimana manusia hidup. Struktur tentang ilmu pengetahuan adalah merupakan pengembangan dari struktur dunia (dalam transparent worldview). Gabungan dari struktur kehidupan, dunia dan pengetahuan ini melahirkan struktur nilai, dimana konsep-konsep tentang moralitas berkembang. Setelah keempat struktur itu terbentuk dalam pandangan hidup seseorang secara transparent, maka struktur tentang manusia akan terbentuk secara otomatis.

Meskipun proses akumulasi kelima struktur diatas dalam pikiran seseorang tidak selalu berurutan seperti yang disebut diatas, tapi yang perlu dicatat bahwa kelima struktur itu pada akhirnya menjadi suatu kesatuan konsepstual dan berfungsi tidak saja sebagai kerangka umum (general scheme) dalam memahami segala sesuatu termasuk diri kita sendiri, tapi juga mendominasi cara berfikir kita. Disini dalam konteks lahirnya ilmu pengetahuan di masyarakat, struktur pengetahuan merupakan asas utama dalam memahami segala sesuatu. Ini berarti bahwa teori atau konsep apapun yang dihasilkan oleh seseorang dengan pandangan hidup tertentu akan merupakan refleksi dari struktur-struktur diatas.

Teori ini berlaku secara umum pada semua kebudayaan dan dapat menjadi landasan yang valid dalam menggambarkan timbul dan berkembanganya pandangan hidup manapun, termasuk pandangan hidup Islam. Berarti, kegiatan keilmuan apapun baik dalam kebudayaan Barat, Timur maupun peradaban Islam dapat ditelusur dari pandangan hidup masing-masing.

Worldview dan Lahirnya Ilmu dalam Islam

Lahirnya ilmu dalam Islam didahului oleh adanya tradisi intelektual yang tidak lepas dari lahirnya worldview Islam sendiri, sedangkan kelahiran worldview Islam tidak lepas dari kandungan al-Qur’an dan penjelasannya dari Nabi.  Jadi jika kelahiran ilmu dalam Islam dibagi secara periodik maka urutannya terdiri dari 1)  Turunnya wahyu dan lahirnya pandangan hidup Islam 2) Adanya struktur ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an dan Hadith dan 3) Lahirnya tradisi keilmuan Islam dan 4) Lahirnya disiplin ilmu-ilmu Islam.

Periode pertama turunnya wahyu harus dilacak dari periode Makkah dan Madinah. Dalam konteks kelahiran pandangan hidup, periode Makkah adalah periode pembentukan struktur konsep dunia dan akherat sekaligus, seperti konsep-konsep tentang Tuhan dan keimanan kepadaNya, hari kebangkitan, penciptaan, akherat, surga dan neraka, hari pembalasan, baik dan buruk, konsep ‘ilm, nubuwwah, dÊn, ibÉdah dan lain-lain.  Pada periode Makkah inilah terbentuk struktur konsep tentang dunia (world-structure) baru[31] yang merupakan elemen penting dalam pandangan hidup Islam. Periode Madinah adalah periode konfigurasi struktur ilmu pengetahuan, yang berperan penting dalam menghasilkan kerangka konsep keilmuan, scientific conceptual scheme dalam pandangan hidup Islam. Pada periode ini wahyu banyak mengandung tema-tema umum yang merupakan penyempurnaan ritual peribadatan, rukun Islam, sistim hukum yang mengatur hubungan individu, keluarga dan masyarakat; termasuk hukum-hukum tentang jihad, pernikahan, waris, hubungan Muslim dengan ummat beragama lain, dan sebagainya.[32] Secara umum dapat dikatakan sebagai tema-tema yang berkaitan dengan kehidupan komunitas Muslim. Meskipun begitu, tema-tema ini tidak terlepas dari tema-tema wahyu yang diturunkan sebelumnya di Makkah, dan bahkan tema-tema wahyu di Makkah masih terus didiskusikan.[33]

Periode kedua timbul dari kesadaran bahwa wahyu yang turun dan dijelaskan Nabi itu telah mengandung struktur fundamental scientific worldview, seperti konstruksi konsep tentang kehidupan (life-structure), tentang dunia (world-structure), tentang ilmu pengetahuan (knowledge-structure), tentang etika (ethical-structure) dan tentang manusia (man-structure), yang kesemuanya itu sangat diperlukan bagi timbulnya kegiatan keilmuan (scientific activities). Istilah-istilah konseptual yang terdapat dalam wahyu seperti ilm, iman, usul, kalam, nazar, wujud, tafsir, ta’wil, fiqh, khalq, halal, haram, iradah dan lain-lain mulai difahami secara intens. Konsep-konsep inilah yang bisa dianggap sebagai kerangka awal konsep keilmuan (pre-scientific conceptual scheme), yang juga berarti lahirnya elemen-elemen epistemologis yang mendasar. Periode ini sangat penting karena menunjukkan wujudnya struktur pengetahuan dalam pikiran ummat Islam saat itu yang berarti menandakan munculnya “Struktur Ilmu” dalam pandangan hidup Islam, meskipun benih beberapa konsep keilmuan telah wujud pada periode Makkah.

Atas dasar framework ini maka dapat diklaim bahwa embrio ilmu (sains) dan pengetahuan ilmiah dalam Islam adalah konstruksi konsep keilmuan dalam worldview Islam yang terdapat dalam al-Qur’an. Hal ini bertentangan secara diametris dengan klaim para penulis sejarah Islam kawakan dari Barat, seperti De Boer, Eugene Myers, Alfrend Gullimaune, O’Leary,[34] dan banyak lagi yang menganggap sains dalam Islam tidak ada asal usulnya. Seakan akan tidak ada sesuatu apapun yang berasal dari dan disumbangkan oleh Islam kecuali penterjemahan karya-karya Yunani. Framework seperti ini diikuti oleh penulis modern seperti Radhakrishnan,[35] Majid Fakhry[36] W.Montgomery Watt [37] dan lain-lain.

Periode ketiga adalah lahirnya tradisi keilmuan dalam Islam. Periode ini merupakan konsekuensi logis dari adanya struktur pengetahuan dalam pandangan hidup Islam. Seperti biasa, karena suatu tradisi selalu melibatkan masyarakat, maka tradisi keilmuan Islam juga melibatkan komunitas ilmuwan. Komunitas inilah yang kemudian melahirkan kerangka konsep keilmuan Islam (Islamic scientific conceptual scheme) yang merupakan framework yang berperan aktif dalam tradisi keilmuan itu.[38] Bukti adanya masyarakat ilmuwan yang menandai permulaan tradisi keilmuan dalam Islam adalah berdirinya kelompok belajar atau sekolah AÎÍÉb al-Øuffah di Madinah.[39] Disini kandungan wahyu dan hadith-hadith Nabi dikaji dalam kegiatan belajar mengajar yang efektif. [40] Meski materinya masih sederhana tapi karena obyek kajiannya[41] tetap berpusat pada wahyu, yang betul-betul luas dan kompleks.  Materi kajiannya tidak dapat disamakan dengan materi diskusi spekulatif di Ionia, yang menurut orang Barat merupakan tempat kelahiran tradisi intelektual Yunani dan bahkan kebudayaan Barat (the cradle of western civilization). Yang jelas, AÎÍÉb al-Øuffah, adalah gambaran terbaik institusionalisasi kegiatan belajar-mengajar dalam Islam dan merupakan tonggak awal tradisi intelektual dalam Islam.[42] Hasil dari kegiatan ini adalah munculnya, katakan, alumni-alumni yang menjadi pakar dalam hadith Nabi, seperti misalnya AbË Hurayrah, AbË Dharr al-GhiffÉri, SalmÉn al-FÉrisi, ‘Abd AllÉh ibn Mas’Ëd dan lain-lain. Ribuan hadith telah berhasil direkam oleh anggota sekolah ini.

Kegiatan awal pengkajian wahyu dan hadith ini dilanjutkan oleh generasi berikutnya dalam bentuk yang lain. Dan tidak lebih dari dua abad lamanya telah muncul ilmuwan-ilmuwan terkenal dalam berbagai bidang studi keagamaan, seperti misalnya Qadi Surayh (d.80/ 699), Muhammad ibn al-Hanafiyyah (d.81/700), Ma’bad al-Juhani (d.84/703), Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz ( d.102/720) Wahb ibn Munabbih (d.110,114/719,723), Hasan al-Basri (d.110/728), Ghaylan al-Dimashqi (d.c.123/740), Ja’far al-Sadiq (d.148/765), Abu Hanifah (d.150/767), Malik ibn Anas (179/796), Abu Yusuf (d.182/799), al-Shafi’i  (204/819) dan lain-lain.

Framework yang dipakai pada awal lahirnya tradisi keilmuan ini sudah tentu adalah kerangka konsep keilmuan Islam (Islamic scientific conceptual scheme). Indikasi adanya kerangka konseptual ini adalah usaha-usaha para ilmuwan untuk menemukan beberapa istilah teknis keilmuan yang rumit dan canggih. Istilah-istilah yang di derivasi dari kosa-kata al-Qur’an dan hadith Nabi termasuk diantaranya: ‘ilm, fiqh, usul, ijtihad, ijma’, qiyas, ‘aql, idrak, wahm, tadabbur, tafakkur, hikmah, yaqin, wahy, tafsir, ta’wil, ‘alam, kalam, nutq,  zann, haqq, batil, haqiqah, ‘adam, wujud, sabab,  khalq, khulq, dahr, sarmad, zaman, azal, abad, fitrah, kasb, khayr, ikhtiyar, sharr, halal, haram, wajib, mumkin, iradah dan lain sebagainya, menunjukkan adanya kerangka konsep keilmuan.

Dari keseluruhan istilah teknis tersebut istilah ‘ilm, yang berulang kali disebut dalam berbagai ayat al-Qur’an,[43] adalah istilah sentral yang berkaitan dengan keseluruhan kegiatan belajar mengajar. Istilah ‘ilm itu sejatinya adalah ilmu pengetahuan wahyu itu sendiri atau sesuatu yang di derivasi dari wahyu atau yang berkaitan dengan wahyu, meskipun kemudian dipakai untuk pengertian yang lebih luas dan mencakup pengetahuan manusia. Istilah kedua yang juga sangat sentral adalah istilah Fiqh, yang dalam al-Qur’an (9:122) menggambarkan kegiatan pemahaman terhadap dÊn, termasuk pemahaman al-Qur’an dan hadith, yang keduanya disebut ‘ilm. Jadi ‘ilm dan Fiqh berkaitan erat sekali.

Jelaslah sudah bahwa worldview Islam terbukti telah melahirkan tradisi intelektual yang telah berhasil melahirkan berbagai disiplin ilmu. Oleh sebab berikutnya akan dijelaskan bagaimana worldview dapat menjadi asas bagi lahirnya epistemologi dan bahkan disiplin ilmu.

Worldview dan Tahap-tahap kelahiran ilmu dalam Islam

Sebelum dipaparkan bagaimana proses suatu ilmu lahir dalam tradisi intelektual Islam, perlu ditegaskan bahwa ilmu dalam Islam dan dalam tradisi manapun tidak lahir secara tiba-tiba. Seperti disinggung diatas fondasi bagi lahirnya suatu disiplin ilmu adalah worldview yang memiliki konsep-konsep keilmuan. Worldview ilmiyah ini kemudian menghasilkan tradisi intelektual (tradisi ilmiah) dalam masyarakat dan selanjutnya lahirlah disiplin ilmu. Namun lahirnya suatu disiplin ilmu melalui tahap-tahap yang memerlukan waktu yang cukup lama. Dalam hal ini Prof. Alparslan membagi 3 tahap terbentuknya suatu disiplin ilmu:

1)      Tahap problematik, (problematic stage)  yaitu tahap dimana berbagai problem subyek kajian dipelajari secara acak dan berserakan tanpa pembatasan pada bidang-bidang kajian tertentu. Ini berlaku untuk beberapa lama.

2)      Tahap disipliner, (disciplinary stage) yaitu tahap dimana masyarakat yang telah memiliki tradisi ilmiah bersepakat untuk membicarakan materi dan metode pembahasan ditentukan sesuai dengan bidang masing-masing.

3)      Tahap penamaan, (naming stage) pada tahap ini bidang yang telah memiliki materi dan metode khusus itu kemudian diberi nama tertentu.[44]

Untuk membuktikan teori terbentuknya disiplin ilmu dalam Islam ini, akan ditelusuri bagaimana ketiga tahapan sejarah tersebut terjadi dalam konteks lahirnya Ilmu Fiqih dan Ilmu Kalam.

Sejarah kelahiran Ilmu Fiqih

Lahirnya Fiqih sebagai ilmu hukum dalam Islam dapat ditelusur bersama dengan ilmu Kalam. Namun cara-cara timbulnya kedua ilmu itu berlainan, sebab obyek materi kalÉm, dapat dikategorikan kedalam masalah-masalah UÎËl al-DÊn, yang dalam filsafat dikategorkan kedalam bidang metafisika, sedangkan obyek materi Fiqh dapat dikelompokkan kedalam masalah-masalah  kehidupan praktis seperti masalah hubungan manusia dengan Tuhan, (muÉamalah ma’allÉh) manusia dengan manusia (mu’Éamalah ma’a al-nÉs). Pada mulanya istilah Fiqh, mencakup obyek materi UÎËl (teologiI dan hukum sekaligus, akan tetapi kemudian berkembang dan berdiri sendiri menjadi ilmu hukum.

Periode problem keilmuan Fiqih dapat ditelusuri sejak Nabi berada di Madinah tahun 622. Pada waktu itu umat Islam telah memiliki asas worldview Islam dari wahyu dan penjelasan Nabi. Sudah tentu karena cara pandang ummat Islam waktu itu adalah baru, maka mereka menghadapi beberapa masalah baru dalam berbagai bidang ilmu. Solusinya berasal  dari wahyu dan penjelasan Nabi. Perlu dicatat bahwa meskipun wahyu telah dijelaskan oleh Nabi, namun disana masih terdapat beberapa masalah[45] yang terbuka untuk difahami secara rasional yang dalam tradisi Islam disebut ra’y.[46] Jadi Fiqh (tafqquh) pada periode ini, bukan dalam pengertian hukum, adalah kegiatan ilmiah untuk memahami ajaran agama Islam (tafaqquh fi al-din) dari sumber wahyu. Dalam kegiatan ini ummat Islam telah memiliki metode tersendiri dalam memahami wahyu baik dengan memahami makna ayat demi ayat, membandingkan suatu ayat dengan ayat lain, menafsirkan ayat dengan hadith ataupun memahami ayat dengan dengan ra’y. Disini pendekatan untuk masalah-masalah yang dihadapi umat Islam seperti masalah teologi, hukum, ekonomi, politik, sosial dan lain-lain diselesaikan dengan menggunakan akal mereka. Praktek penggunaan akal atau ra’y jika dilakukan oleh beberapa orang yang otoritatif dalam bidangnya disebut  ijma’ . Penggunaan ijma’ yang pertama dalam sejarah pemikiran Islam adalah dalam menentukan pengebumian Nabi dan pemilihan khalifah pertama. Dan selanjutnya ijma’ dipakai dalam menyelesaikan berbagai problem, meskipun tidak selalu berkaitan dengan masalah hukum. Pada tahap ini diversifikasi ilmu masih belum wujud, pembicaraan teologis, hukum, tafsir, hadith dsb. masih bercampur-campur, belum terklassifikasikan secara disipliner. Inilah yang dimaksud dengan tahap problematik (problematic stage). Meski pada tahap ini Fiqih sebagai ilmu hukum masih pada tahap problematik, namun Fiqih yang membahas berbagai masalah keilmuan sudah dapat disebut sebagai ilmu (science) dan pada periode ini Fiqih berperan sebagai induk segala ilmu pengetahuan dalam Islam, sama seperti sebutan filsafat Yunani sebagai science. Jadi tahap problematik ini mulai menunjukkan tubuh ilmu pengetahuan secara umum pada setengah abad perama hijrah. Namun tidak lebih dari dua dekade, yakni tahun 660-an M, telah muncul para spesialis yang memiliki kegiatan yang mengarah pada terbentuknya suatu disiplin ilmu, ini berarti keseluruhan kegiatan intelektual yang disebut al-Fiqh telah mulai memasuki tahap kedua.

Pada saparoh abad pertama (660 M), Islam mulai berkembang dengan pesat dan  tersebar ke masyarakat yang berbeda kebudayaan, kultur, gaya hidup dan tradisi. Pada saat itu ummat Islam dituntut untuk menerapkan hukum Islam. Konsekuensi para ulama mulai mendiskusikan masalah-masalah hukum secara intensif. Pembahasan yang intensif ini perlahan-lahan membentuk suatu batang tubuh ilmu hukum. Pada zaman Ummayyah, pusat-pusat peradilan telah berdiri di beberapa kota penting. Pada tahun  700-an tokoh-tokoh pemikir seperti HishÉm ibn ‘Urwa (d.94/712), al-Zuhri, (d.      ), Hasan al-Basri (d.728) AtÉ’ ibn Abi Rabah (d.732), AbË Hanifah (d.767) telah mendiskusikan masalah-masalah hukum secara intensif dan terpisah dari diskusi-diskusi dalam bidang keilmuan yang lain, seperti misalnya masalah keimanan, masalah hadith, tafsir dll. Tahap ini, adalah perpindahan dari tahap problematik kepada tahap disipliner (disciplinary stage).

Suatu ilmu dapat dikatakan sebagai suatu disiplin apabila ia telah mengalami periode penamaan (naming stage), yaitu ketika disiplin ilmu itu telah diberi nama khusus yang membedakan dirinya dari ilmu lain. Tahap ini biasanya tidak menambil waktu yang lama dan hanya merujuk kepada fakta-fakta yang mengarah kepada penamaan ilmu. Oleh sebab itu penentuan waktu yang tepat untuk penamaan suatu ilmu tidak mudah. Tahap penamaan ilmu Fiqih dapat ditelusuri sejak adanya aktifitas yang khusus berkaitan dengan Fiqih sebagai ilmu tentang hukum mulai dari ImÉm al-Shafi‘Ê (w. 204/820) dan periode selanjutnya yaitu antara permulaan dan akhir abad kedua Hijrah (750an-850an M). Dianggap demikian karena ia adalah ulama pertama yang mencanangkan asas-asas Fiqh sebagai ilmu hukum. Dalam karyanya al-RisÉlah ia memformulasikan 4 sumber hukum Islam, yaitu al-Qur’an, al-Hadith, IjmÉ’ dan QiyÉs. Setelah wafatnya  ImÉm al-Shafi‘Ê Fiqh sebagai ilmu hukum mulai dipisahkan dari Fiqh dalam pengertian teologi.[47] Selain itu Fiqih pada periode ini sudah bukan lagi induk ilmu pengetahuan Islam lagi. Dengan mengkategorikan materi obyek kajian Fiqh hanya kedalam masalah-masalah hukum dan memberinya nama khusus, maka masyarakat telah menghasilkan suatu disiplin ilmu baru yaitu Fiqh.

Sejarah kelahiran Ilmu  KalÉm

Jika proses kelahiran kalÉm ditelusur lebih jauh dari sejak tahap problematik, akan ditemukan juga kaitannya dengan Fiqh. Sesungguhnya pemikiran spekulatif dikalang ummat Islam periode awal didorong oleh masalah politik, yakni dalam menentukan pengganti (khalÊfah) Rasulullah. Tahap problematik  ini mulai semakin nampak ketika terjadi pembunuhan khalifah Uthman ibn Affan dan pemilihan AlÊ bin AbÊ ThÉlib yang dilanjutkan dengan perselisihan antara AlÊ dan ‘Óishah dan AlÊ-Mu‘Éwiyah. Diskui yang berkisar pada masalah kepemimpinan politik ummat Islam dan status pelaku dosa besar (murtakib al-kabÉ’ir). Para pengikut AlÊ, kelompok Shi’ah, menekankan pada cirri-ciri pemimpin, [48] sedangkan kelompok yang memisahkan dari pengikut AlÊ yang disebut KhawÉrij lebih menekankan pada masalah status pelaku dosa besar yang harus dikeluarkan dari masyarakat Muslim. Usaha untuk mendamaikan kedua kelompok ini dilakukan oleh cucu AlÊ, Hasan Ibn Muhammad Ibn al-Hanafiyyah, yang menawarkan idea of irja’ (76/695) yang kemudian disebut dengan kelompok al-Murji’ah. Dengan lahirnya kelompok al-Murji’ah issunya menjadi lebih spekulatif, meskipun masih berkatian dengan masalah politik. Tapi sejatinya suasana pemikiran telah berubah dari “politik ke teologi”.[49]

Dari masalah pelaku dosa besar yang dibahas dari sisi hukum, apakah pelaku dosa besar masih dianggap sebagai mukmin atau tidak, diskusi mulai berkembang kearah definisi iman. Ini artinya para ulama saat itu mulai melihat suatu masalah dari sisi lain selain sisi hokum, yaitu teologi. Dan dari  sejak itu kegiatan pemikiran spekulatif bermula. Maka dari itu dapat dikatakan bahwa timbulnya pemikiran spekulatif yang menghasilkan filsafat Islam ini, dipengaruhi terutamanya oleh prinsip-prinsip pemikiran hukum.[50]

Pembahasan berkembang lagi menjadi lebih murni spekulatif dan beralih kepada isu tentang konsep kekuasaan Tuhan dalam menentukan kejadian-kejadian di dunia, termasuk tingkah laku manusia. Kelompok yang disebut Qadariyyah pada tahun 71/690 berpendapat bahwa tingkah laku manusia ditentukan oleh takdir Tuhan dan bukan berdasarkan pada kebebasan manusia. Meskipun pemikiran ini tidak berangkat dari kepentingan politik, tapi ada usaha-usaha untuk mengaitkannya dengan masalah politik. Khalifah bani Umayyah mengklaim bahwa kekuasaan mereka telah ditakdirkan oleh Tuhan. Sebagai indikasi bahwa masalah teologi ini penting maka Hasan al-Basri (d.110/728) tokoh penting dalam hal ini, pada tahun 81/700 menulis RisÉlah kepada khalifah Abd al-Malik yang intinya membicarakan masalah kebebasan kehendak manusia dan takdir Tuhan, yang kemudian dibalas oleh khalifah secara tertulis.[51] Tokoh-tokoh lain yang intensif terlibat dalam diskusi masalah ini adalah Ma’bad al-Juhani (d.84/703) and Ghaylan al-Dimanshqi (d.126/743). Pandangan kelompok yang disebut al-Qadariyyah ini disanggah oleh Jahm Ibn Safwan (d.127/745), yang pengikutnya dinamakan al-Jahmiyyah. Semua ini sekedar menggambarkan bahwa masyarakat Muslim saat itu telah mendiskusikan secara intensif masalah teologi secara terpisah dari diskusi tentang masalah hukum, dan ini menandakan tahap disipliner ilmu kalÉm.

Pada akhir abad pertama Hijrah (730’s-800’s), telah terdapat suatu kesadaran ilmiah dikalangan cendekiawan Muslim bahwa masalah-masalah teologi perlu dibahas dengan metodologi tersendiri yang terpisah dan berbeda dari metode penetapan hukum.  Perselisihan antara WÉsil bin ‘AÏa  (w.131/748) dan al-×asan al-BaÎrÊ tentang status pelaku dosa besar adalah pertanda bahwa Muslim mulai memisahkan obyek kajian teologis secara disipliner. Tapi sajauh ini, istilah kalÉm, belum dipakai secara resmi sebagai disiplin ilmu tersendiri, sebab masih terdapat usaha-usaha untuk menggunakan istilah Fiqh sebagai ilmu yang membicarakan masalah ketuhanan.  AbË ×anÊfah (w.150/767) yang mewakili kelompok Salaf, masih menggunakan istilah  al-Fiqh al-Akbar [52] untuk mendiskusikan masalah-masalah teologis. Meskipun istilah ini digunakan hingga pertengahan abad ketiga Hijriyyah, namun akhirnya ketika madhhanb Hanafi mengkritik kelompok Mu’tazilah dan membela kelompok Ash’ariyyah, istilah kalÉm dipakai untuk merujuk kedua kelompok ini.[53] Ini menunjukkan bahwa istilah al-Fiqh al-Akbar tidak lagi dipakai istilah atau nama disiplin ilmu pemikiran spekulatif. Tahap disipliner ilmu kalÉm memakan waktu cukup lama untuk menjadi nama sebuah disiplin ilmu. Ketika terjadi diskusi diskusi resmi tentang kalÉm yang terjadi pada kantor pengadilan Barmakids di zaman kekuasaan Harun al-Rashid (170-194/ 786-809), istilah kalÉm belum dipakai secara resmi. Bahkan dizaman Abu al-Hasan al-Ash’ari (d.324/935)  istilah ini masih juga belum resmi dipakai sebagai nama suatu disiplin ilmu, sebab dalam karya-karya al-Ash’arÊ  kalÉm tidak dipakai sebagai disiplin ilmu, istilah kalÉm hanya dipakai untuk menunjukkan sub-judul dari suatu bab, seperti al-Kalam fi ithbat ru’yatillah.

Tahap penamaan KalÉm sebagai ilmu dapat dirujuk dari fakta sejarah ketika Ibn Sa’ad (d.288/845) menggunakan istilah mutakallimËn untuk mereka yang terlibat dalam diskusi tentang pelaku dosa besar yang diangkat oleh kelompok Murjiah.[54] Namun, istilah KalÉm yang merujuk kepada disiplin ilmu pemikiran spekulatif muncul pada akhir abad ke 4 Hijrah, dalam karya Ibn Nadim, KitÉb al-Fihrist. Dalam kitab ini ia dengan jelas menyebut istilah ‘ilm alkalÉm dan mutakallimËn untuk merujuk kelompok teologi seperti al-KhawÉrij, al-Mu’tazilah, Ash’ariyyah, al-ShÊ’ah, Sufiyyah dsb.[55] Inilah barangkali yang menandai lahirnya ilmu ‘ilm alkalÉm.

Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan fondasi ilmu pengetahuan Islam adalah pandangan hidup Islam. Sebagaimana asas ilmu pengetahuan Barat adalah pandangan hidup Barat. Ilmu dalam Islam bukan diambil dari kebudayaan lain. Sebab ilmu tidak dapat timbul dan berkembang pada suatu masyarakat dari hasil impor.[56] Artinya suatu ilmu tidak dapat muncul dengan secara tiba-tiba dalam suatu masyarakat atau kebudayaan yang tidak memiliki latar belakang tradisi ilmiah atau tanpa worldview yang kaya dengan struktur keilmuan. Ilmu asing “diadapsi” bukan “diadopsi”, itupun sebatas konsep-konsepnya yang dinilai layak untuk diadapsi. Karena proses pinjam meminjan antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lain adalah sesuatu yang alami. Namun dalam mengadapsi konsep-konsep dari worldview dan kebudayaan asing diperlukan proses epistemologis untuk mengislamkannya. Malah sebenarnya ketika elemen-elemen asing itu ditransmisikan kedalam pandangan hidup Islam, pada saat yang sama terjadi proses Islamisasi. Disini perlu digaris bawahi bahwa ilmu berbeda dan harus dibedakan dari teknologi.

Meskipun demikian posisi konsep pinjaman tidak bisa menjadi lebih dominan. Dalam kasus filsafat dan sains Islam, misalnya, posisi konsep pinjaman dari Yunani digambarkan dengan tepat sekali oleh MM.Sharif. Baginya pemikiran Muslim sebagai kain dan pemikiran Yunani sebagai sulaman (tambahan), “meskipun sulaman itu adalah benang emas kita hendaknya tidak menganggap sulaman itu sebagai kain”.[57] Ini bermakna bahwa kita tidak bisa dikatakan menghasilkan suatu disiplin ilmu jika paradigma, prinsip-prinsip dan teorinya di dominasi oleh pandangan hidup lain.

Kuala Lumpur, 1 April 2005


*  Makalah disampaikan pada Seminar Fondasi Epistimologi Untuk Ilmu Ekonomi, diselenggarakan oleh Fakutas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, di Yogyakarta,  pada tanggal 11 April 2005 .

[1] Lihat  Thomas F Wall, Thinking About Philosophical Problem, Wadsworth, Thomson Learning, United States, hal. 126-127

[2] al-Attas, A Commentary on the Hujat al-ØsiddÊq of NËr al-DÊn al-RÉnirÊ: being an exposition of the salient point of distinction between the position of the theologians, the philosophers, the Sufi dan the pseudo-Sufi on the ontological relationship between God and the world and related questions, Ministry of Education and Culture, Kuala Lumpur, 1986, 464-465.

[3] Edwind Hung dan Gutting sepakat bahwa paradigma sama dengan worldview. Hung menyatakan bahwa “…..each paradigm determines the way science should be practiced. It is a weltanschauung”; Lihat Edwin Hung, The Nature of Science: Problem and Perspectives (Belmont, California, Wardsworth, 1997) hal. 368. Dengan nada yang sama Garry Gutting juga menyatakan bahwa “to accept a paradigm is to accept a comprehensive scientific, metaphysical and methodological worldview. Lihat Gary Gutting, “Introduction” dalam Paradigm and Revolutiona: Appraisal and Application  of Thomas Kuhn’s Philosophy of Science, ed. Gary Gutting (Notre Dame, Ind.: University of Notre Dame Press, 1980, hal. V,1.

[4] Kajian Ninian Smart membuktikan bahwa perkataan bahasa Inggris, worldview tidak mencakup makna pandangan hidup yang menggambarkan visi yang mencakup realitas keagamaan dan ideologi. Ninian Smart, Worldview, Crosscultural Explorations of Human Belief, Charles Sribner’s sons, New York, n.d. 1-2

[5] Smart, Ibid

[6] Aslinya: An integrated system of basic beliefs about the nature of yourself, reality, and the meaning of existence, Lihat Thomas F Wall, Thinking Critically About Philosophical Problem,  A Modern Introduction, Wadsworth, Thomson Learning, Australia, 2001, 532.

[7] Aslinya: The foundation of all human conduct, including scientific and technological activities. Every human activity is ultimately traceable to its worldview, and as such it is reducible to that worldview. Lihat Alparslan Acikgence, “The Framework for A history of Islamic Philosophy”, Al-Shajarah, Journal of The International Institute of Islamic Thought and Civlization, (ISTAC, 1996, vol.1. Nos. 1&2, 6.

[8] Kuhn menyatakan:”penelitian ilmiyah diarahkan kepada artikulasi fenomena-fenomea dan teori-teori yang paradigmanya telah tersedia”  Lihat Thomas S Kuhn, The Structure of Scientific Revolution, International Encyclopedia of Unified Science, vol.2, no 2 (Chicago: Univerity of Chicago Press, 1970. 24.

[9] Lihat Edwin Hung, The Nature of Science: Problem and Perspectives (Belmont, California, Wardsworth, 1997) hal. 340, 355, 368, 370.

[10] Al-MawdËdÊ, The Process of Islamic Revolution, (Lahore, 1967) 14, 41.

[11] Shaykh ÓÏif al-Zayn, al-IslÉm wa Idulujiyyat al-InsÉn, DÉr al- KitÉb al-LubnÉnÊ,  Beirut, 1989, hal. 13.

[12] M.Sayyid Qutb, MuqawwamÉt al-TaÎawwur al-IslamÊ, DÉr al-ShurËq, tt. Hal. 41

[13] S.M.N, al-Attas dalam Prolegomena to The Metaphysics of Islam An Exposition of  the Fundamental Element of the Worldview of Islam, Kuala Lumpur, ISTAC, 1995, 2

[14] Thomas F Wall, Thinking.. , 16

[15] Ninian Smart, Worldview, Crosscultural Explorations of Human Belief, 8-9

[16]S.M.N, al-Attas, “The Worldview of Islam, An Outline, Opening Adress”, dalam Sharifah Shifa al-Attas ed. Islam and the Challenge of Modernity, Proceeding of the inaugural Symposium on Islam and the Challenge of Modernity: Historical and Contemporary Context, Kuala Lumpur Agustus, 1-5, 1994, ISTAC, Kuala Lumpur, 1996, hal. 29

[17] Lihat S.M.N, al-Attas Prolegomena, ix.

[18] Alparslan Acikgence,  Islamic Science, Towards  Definition, Kuala Lumpur, ISTAC 1996, 29.

[19] Ninian Smart, Worldview, 2

[20] Ia tidak diterjemahkan menjadi Nazrat al-Islam li al-kawn, karena nazar lebih bersifat observasi spekulatif dan al-kawn  lebih merupakan pengalaman indrawi atau dunia nyata yang kasat mata. S.M.N, al-Attas, Prolegomena, 1.

[21] S.M.N, al-Attas, Prolegomena, 1.

[22] Penjelasan al-Attas tentang konsep worldview Islam dan penjabaran elemen-elemen asasnya terdapat dalam karyanya Prolegomena to The Metaphysics of Islam. Pendahuluan buku ini menjelaskan ciri-ciri khusus pandangan hidup Islam yang berbeda dari pandangan hidup Barat. Teori ini kemudian mendapat penjelasan lebih detail dalam kaitannya dengan timbulnya sains dan tradisi intelelktual Islam, dari Professor Alparslan. Professor Alparslan yang telah lama mengkaji teori worldview dalam kaitannya dengan sains dan sistim pemikiran, kemudian menulis risalah berjudul Islamic Science Towards definition, .untuk proses perjalanan pengkajiannya itu lihat “acknowledgement” hal. v. al-Attas, SMN, Prolegomena, lihat “Introduction” 1-37. Cf. Al-Attas, S.M.N., “Opening Address, The Worldview of Islam, an Outline”, hal. 28-29.

[23] Pengetahuan a prioriadalah pengetahuan yang diperoleh melalui asumsi atau cara berfikir tertentu terhadap fakta-fakta, tanpa observasi atau pengalaman khusus. A posteriori adalah pengetahuan yang tidak dapat diperoleh secara a priori.

[24] Thomas F Wall, Thinking Critically About Philosophical Problems, 126

[25] Alparslan, “The Framework” 6. Cf. Alparslan, Islamic Science, 10.

[26] Alparslan, “The Framework”, 6-7.

[27] Alparslan, Islamic Science, 13-14.

[28] Alparslan, Islamic Science, 10-19.

[29] Alparslan, Islamic Science, 19

[30] Alparslan, Islamic Science, 20-26. Dalam pandang Prof. Al-Attas elemen-elemen asas pandangan hidup Islam terdiri dari konsep Tuhan, sifat ciptaanNya, konsep manusia dan jiwa manusia, konsep ilmu, kebebasan dan lain-lain. Al-Attas, S.M.N., “Opening Address”,  28-29.

[31] Professor Izutsu membuktikan munculnya pandangan hidup baru ini dengan menunjukkan sistim kata yang menjadi unsure pokok dalam kosa-kata bahasa Arab pra-Islam. Contoh yang diberikan disini adalah kata Allah yang dalam al-Qur’an merupakan kata yang sangat sentral yang menempati medan semantik keseluruhan kosa-kata, sedangkan dalam sistim kata pada masa pra-Islam  Allah tidak mempunyai kedudukan yang sangat sentral, Allah adalah tuhan dalam hirarki tuhan-tuhan yang lain.  Penjelasan lebih detail lihat Izutsu, Toshihiko, God and Man in The Qur’an, Semantic of the Qur’anic Weltanschauung, New Edition, Kuala Lumpur,  Islamic Book Trust, 2002, 36-38.

[32] Untuk lebih detail tentang perbedaan tema-tema umum antara wahyu yang diturunkan di Makkah dan Madinah Lihat Abu Ammaar Yasir Qadhi, An Introduction to the Science of the Qur’aan, Birmingham, al-Hidayah Publishing and Distribution, 1999, 100-101.

[33] Lebih lanjut mengenai ciri-ciri surah-surah Makkiyah Madaniyyah, lihat al-Zarkasyi, Muhammad Badr al-din, al-Burhan fi Ulum al-Qur’an, Beirut, Dar al-Ma’arif, 1990, jilid I, 275.

[34] De Boer misalnya berasumsi bahwa sains dalam Islam lebih banyak ditentukan oleh pengaruh asing dan karena itu “keseluruhannya bukan hasil murni” ummat Islam, sebab pada abad pertama alam Islam tidak terdapat kesadaran akan metode dan sistim. Bahkan baginya filsafat Islam hanyalah eklektisisme, yang bergantung kepada hasil-hasil kerja terjemahan karya Yunani, dan merupakan asimiliasi ketimbang karya asli. Lihat De Boer, T.J., The History of Philosophy in Islam, Curzon Press, Richmond, U.K., 1994, hal. .28-29,309. Untuk tuduhan bahwa sains Islam hanya melulu terjemahan lihat Myers, Eugene A., Arabic Thought and The Western World, Fredrick Ungar Publishing Co, New York, 1964, hal.7-8. Senada dengan itu Alfred Gullimaune menyatakan bahwa framework, skop dan materi filsafat Arab harus dilacak dari bidang-bidang dimana filsafat Yunani yang begitu dominan dalam sistim mereka. Alfred Gullimaune, “Philosophy and Theology” dalam The Legacy of Islam, Oxford University Press, 1948, hal.239. Demikian pula O’Leary menganggap pemikiran Arab hanyalah transmisi filsafat Yunani dari versi Hellenisme Syriac kepada Barat Latin. O’Leary, De Lacy,  Arabic Thought and Its Place in History, Routledge & Kegan Paul Ltd, London, 1963.hal.viii.

[35] Radhakrishnan, History of Philosophy, Eastern and Western, George Allan & Unwin Ltd. London, lihat “Islamic Philosophy”, Bab XXXII, hal.120-149.

[36] Majid Fakhry menekankan pengaruh kebudyaan asing seperti Yunani, India dan Persia kedalam filsafat Islam. Lihat  Fakhry, Majid, A History of Islamic Philosophy, Columbia University Press, New York, 1983, hal.viii-ix.

[37] Watt menggambarkan lahirnya filsafat dan teologi Islam dari dua gelombang Hellenisme, gelombang pertama adalah periode penterjemahan karya Yunani dan kedua adalah munculnya filosof Muslim Neoplatonic Aristotelian, seperti al-Farabi, Ibn Sina dan lain-lain. Lihat Watt, M.W, Islamic Philosophy and Theology, University of Edinburgh Press, Edinburgh, 1985, hal.33-64; 69-128.

[38]Alparslan, Islamic Science, 81

[39] Khalifah melaporkan catatan orang lain  menyatakan bahwa Suffah didirikan antara 10, 17, atau 19 bulan sesudah Hijrah atau 2 tahun setelah Hijrah. Dalam SaÍih BukhÉri disebutkan pula bahwa ia didirikan 16 atau  17 bulan setelah Hijrah. Lihat Khalifah ibn Khayyat  (d.240 A.H) al-Tarikh, dengan komentar oleh Akram Diya’ al-‘Umari (Najaf: al-Adab Press 1967, vol.1 / 321. Bandingkan, al-Bukhari, Muhammad ibn Isma’il (d.256 A.H) al-Sahih, 9 Bagian, dalam 3 jilid (Mesir: Muhammad Ali al-Subayh, n.d. lihat Kitab al-Salah Bab al-Tawajjuh Nahw al-Qiblah, 1/104.;   lihat juga al-Hujwiri, Kashf al-Mahjub, 81.

[40] Mengenai jumlah peserta dalam komunitas ilmuan dan materi yang dikaji, Lihat AbË Nuaym Abu Nu’aym, Ahmad ibn ‘Abd Allah al-Asbahani (d.430 A.H.) Hilyat  al-Auliya’, 10 jilid, Mesir: al-Sa’adah Press, 1357, 1/339, 341.

[41] Tujuan utama AsÍÉb al-Øuffah adalah belajar dan mengamalkan Islam, seperti shalat, membaca al-Qur’an, memahami ayat-ayat bersama-sama, berzikir serta belajar menulis. Alumni, sebut saja begitu, dari sekolah masyarakat (learning society)  ini juga menunjukkan kemampuan mereka dalam menghapal hadith-hadith Nabi. Lihat Abu Daud al-Sijistani, Sulayman ibn al-Asha’ath, (d.275 A.H) al-Sunan,  2 vols. (Egypt, Mustafa al-Babi  al-Halabi, 1371) 2/237; and Ibn Majah, Muhammad Ibn Yazid (d.273), al-Sunan, dengan komentar dari Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, (Cairo: Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyyah, 1953,  2/70.

[42] AbË Nu’aym mencatat bahwa Sa’Êd ibn ‘Ubadah sendiri biasa memberikan akomodasi kepada 80 orang di rumahnya untuk tujuan belajar mengajar.  Ibid, 1/341.

[43] Dalam al-Qur’an terdapat 91 ayat yang mengandung kata-kata ‘ilm, tidak termasuk kata-kata derivatifnya, dari 91 ayat itu  67 daripadanya diwahyukan di Makkah dan sisanya, 24 ayat, di Madinah.

[44] Alparslan, Islamic Science, 68.

[45] ‘Abd al-HalÊm MahmËd menyebutkan bahwa ada dua hal yang tidak disebutkan secara jelas dalam al-Qur’an:  Pertama, masalah yang berkaitan dengan zat Tuhan (dhat Allah), hakekat sifat Tuhan, hubungan antara esensi dan sifat, rahasiaNya tentang qadr dan problem-problem lain yang diluar jangkauan akal manusia. Kedua, masalah-masalah khusus yang berhubungan cabang-cabang  (furË’) yang jumlahnya tidak terbatas.  Al-Qur’an hanya menjelaskan asas umum shari’ah (al-usul al-‘amah li al-tashri’ ) dan beberapa hal yang khusus. Lihat ‘Abd al-HalÊm MahmËd, al-TafkÊr al-Falsafi fi al-IslÉm, Dar al-Ma’arif, Cairo, t.t. hal.108-109.

[46] Bukti yang sering dirujuk untuk ini adalah Hadith tentang persetujuan Nabi terhadap Mu‘Édh bin Jabal untuk menggunakan ra’y dalam menyelesaikan masalah yang timbul dimasyarakat, jika al-Qur’an dan Hadith tidak menyebutkan penyelesaian masalah itu secara eksplisit. Musa, Yusuf, Usul al-Tashri’ al-Islami,Dar al-Ma’arif, Cairo, 1964, hal. 11.

[47] Wensinck menamakan periode ini sebagai akhir dari “happy relation between jurisprudence and theology”. Wensinck, A.J. The Muslim Creed, Its genesis and historical development, Cambridge University Press, Cambridge, 1932, hal.253-254.

[48] Watt, M.W, Formative Period of Islamic Thought, Edinburgh University Press, Edinburgh, 1973, hal.37.

[49] McDonald,D.B., Development of Muslim Theology, Jurisprudence and Constitutional Theory, Khayats, Beirut, 1965, hal.124.

[50] Leaman, Oliver, An Introduction to Medieval Islamic Philosophy, Cambridge University Press, Cambridge, 1985, hal.5.

[51] al-Shahrastani, al-Milal wa al-Nihal, vol.2 ed. By Cureton, R..W. London, hal.32.

[52] Lihat  Wensinck, The Muslim Creed, Cambridge University Press, Cambridge 1932, hal.94, 122; Bandingkan S.E.I, hal.212; Lihhat Abu Hanifah, al-Fiqh al-Akbar, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1979, hal.9. Bandingkan The Concise Encyclopedia of Islam, lihat “Creed”, hal.88; “al-Fiqh al-Akbar”, hal.216-217. lihat juga Arthur Jeffery, A Reader on Islam, Mouton & Co. 1962, The Hague, hal.340.

[53] Wensinck, The Muslim Creed,  hal. 264.

[54] Wolfson, H.A.,The Philosophy of Kalam, Harvard University Press, Harvard 1976, hal.4.

[55] Lihat Ibn Nadim, Kitab al-Fihrist, ed. G.Flugel, Vogel, 1872, hal.172-198; Bandingkan B.Bodze (ed.and trans.) The Fihrist of Ibn Nadim: A Tenth Century Survey of Muslim Culture, Columbia University Press,  New York, 1970, vol.2, hal.380-492.

[56] Alparslan Acikgenc, Islamic Science, 73.

[57] Persisnya berbunyi: “although it was a golden thread we should not take the thread for the fabric”, M.M. Sharif, (Ed), A History of Muslim Philosophy, Low Price Publication, Delhi, vol., 1995, hal. 4.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s